Sunday, January 30, 2005

Epik

MENUNGGU ADZAN

Penulis:Sakti Wibowo

Aku menggeleng. Karenanya, sapaan lelaki hitam itu tak berlanjut. Lantas, aku kembali berjalan. Sapaan tadi secara eksplisit menanyakan apakah aku akan melakukan sembahyang. Sebagai seorang Falashas, imigran Yahudi dari Ethiopia, aku tahu betul bahwa jika aku mengangguk, maka laki-laki itu akan memberi layanan gratis mengenai sejumlah doa dan brosur petunjuk yang diambil dari Kitab Torah.
Aku menggeleng, sekadar untuk menghindari layanan cuma-cuma itu. Sekarang aku hanya ingin berjalan-jalan sembari menunggu adzan (Abu Hasan, teman karib mendiang Shameer, adikku, mengatakan akan menemuiku di depan gerbang Al Aqsha ini saat adzan) sambil merenungi jejak perjalanan yang telah menguras air mata orang-orang Yahudi Ethiopia. Tapi, jika pun tidak demikian, aku bisa memastikan aku akan menjawab dengan gelengan yang sama memberitakan keenggananku untuk sembahyang. (Apakah aku masih Yahudi?). Keengganan yang bersumber dari rasa gamang, atau mungkin keraguan. Aku sedang menunggu adzan….
Beginikah rupa tanah yang dijanjikan itu?

Kuat kucoba menepis ragu. Sebab, rasa ini mungkin hanya berasal dari relung luka akibat perlakuan yang tidak manusiawi yang dialami para aliya begitu menginjak tanah impian.
Aku masih sangat kecil ketika itu, hanya melihat cakrawala dari dekapan tangan Ibu. Panik wajahnya, dan aku sibuk mengisap air susu. Lantas, kurasakan tangan itu lama-lama kaku, mendekapku dalam dingin udara Sudan yang tak bersahabat pada para pejalan. Ayah membuka dekapan itu dengan air mata meleleh, menyadari si wanita tak lagi mampu membuka pelukan, juga menghela napas sebagai jendela bagi nyawanya. Ia telah mati, bersama ribuan orang yang mati.

Aku tidak membaca selain kesedihan. Bahkan, kata pun tak kupahami apa artinya. Aku masih sangat kecil. Belum genap dua tahun saat Operasi Musa dimulai. (Setelah dewasa, aku baru mengetahui bahwa dengan nama ini proses migrasi Yahudi Ethiopia itu dinamai.) Awal era delapan puluhan. Gelombang besar yang menurut ayahku berjumlah lebih dari 55.000 orang, menempuh perjalanan panjang bertahun-tahun dalam lilitan lapar dan hawa dingin, untuk mencapai Erets Yisrael. Perjalanan itu dilanjutkan dengan Operasi Sulaiman empat tahun kemudian, yang diikuti oleh jumlah aliya yang tak kalah banyaknya.

“Kita adalah orang-orang Yahudi yang sesungguhnya paling tinggi menebus harga menjadi aliya,” papar ayahku yang hingga menutup usianya beberapa tahun lalu, masih menjadi saksi dari derita paling perih nan menyamai tragedi holokaus. Sejarah kelam itu tercatat nyata pada matanya, juga pada tubuhnya yang didiami berbagai penyakit, bekas perjalanan panjang yang mempersingkat usia. Perjalanan menuju mati.

Harga yang mahal. Ibuku, bersama 4.000 orang lainnya meninggal si Amrakuva, kamp transit terbesar di Sudan. Keadaan Falashas saat itu sungguh mengenaskan; minim pakaian dan makanan, diterpa cuaca gurun yang mengerikan di mana siangnya terik membakar, dan malamnya udara dingin menggigit. Semua itu disertai harapan memperoleh penghidupan di tanah Kanaan, dan harkat yang lebih layak hidup di antara sesama saudaranya yang telah mengecap hidup di bumi warisan para anak Israel.
Tapi, apakah yang kami dapati, setelah darah dikuras dari orang-orang Ethiopia?

Yahudi Ethiopia adalah orang-orang yang keras memegang tradisi Yudaisme dalam desakan untuk berpindah agama. Mereka memiliki kekuatan yang berlipat dari kulit hitam berikut tubuh kurus tak berdaging akibat deraan kurang pangan yang melanda Afrika masa itu. Tak mengenal takut, gurun telah mereka tantang demi kembali ‘pulang’ pada tanah yang dijanjikan ini. Cinta mereka kepada Yerusalem… melebihi aliran darah dan denyut nadi. Cinta itu tetap berdetak dan mengalir kendati telah banyak yang mati. Walaupun… di negeri warisan ini, mereka memperoleh perlakuan tak manusiawi dan diskriminasi.

“Kalian bangsa primitif,” sembur seorang kawan di sinagog, saat aku berusia belasan.
“Tapi aku Yahudi, sama sepertimu,” cetusku meradang. Kebanggaan sebagai Yahudi yang paling banyak membayar tebusan aliya—sebagaimana Ayah selalu membanggakannya—membuat ada perasaan terluka telah dipandang sebagai warga kelas dua dari seluruh tatanan masyarakat Yahudi.
“Kalian tidak berpendidikan. Kalian hanya memiliki kebanggaan sebagai Yahudi, tanpa memiliki catatan sejarah yang pantas dikenang. Kalian seperti bangsa primitif yang terdampar dalam peradaban modern.”

Sentimen rasial bisa saja ditutupi oleh pemerintah Israel, namun budaya semacam ini tidak bisa dihilangkan dari orang-orangnya. Aku telah merasakannya sendiri, menyaksikannya menyatu dengan rotasi hidup di Israel. Menghapusnya tak semudah membuat undang-undang yang tertera dalam kodifikasi hukum negara. Nyatanya, diskriminasi rasial masih dirasakan oleh orang-orang Falashas hingga seperempat keberadaannya di negeri ini.

Mereka berpikir bisa menutupi sentimen rasial itu dengan mengirim orang-orang Falashas ke sekolah-sekolah—dan kemudian aku mengetahui bahwa sekolah-sekolah tujuan itu sengaja dipilihkan dari yang tidak bermutu. Lantas, bersumber dari mana gerangan pandangan mata sinis dan meremehkan terhadap orang-orang kulit hitam ini (yang karenanya, Shameer mati) jika bukan dari sikap mental rendah dan ego yang tinggi?

Adikku, Shameer, bunuh diri tahun lalu karena penghinaan menyakitkan di depan teman-teman kuliahnya. Usianya baru menapak dua puluh, terlalu muda untuk mati. Tapi, terus-menerus dipandang sebagai bangsa primitif yang menumpang hidup pada ‘keberadaban’ Yahudi kulit putih begitu meninggalkan rasa tidak nyaman di hatinya. Mereka mengkalim secara sepihak bahwa mereka lebih beradab dari warna kulit yang lain. Hinaan yang menimpa adikku, aku tak tahu pasti seberapa dalamnya. Terakhir kudengar, ia jatuh cinta pada seorang Yahudi Ashkenazi, Yahudi percampuran Eropa dan Amerika. Gadis itu sungguh tidak pernah belajar tentang menghargai perasaan. Ia tak memiliki cara menolak cinta selain dengan mencerca dan menghina habis-habisan. Beberapa bulan sebelumnya, Shameer melamar pekerjaan di sebuah kantor dagang milik Yahudi. Dan, bisa diduga, lamaran itu telah ditolak di depan gerbang; tak ada tempat untuk orang Ethiopia.

Mungkin Shameer lupa mewarisi tekad yang dimiliki orang-orang Falashas. Mungkin ia lupa bahwa Musa pernah terkatung-katung empat puluh tahun lamanya di Gurun Sinai setelah lepas dari pengejaran Fir’aun di Reed Sea—berabad-abad berikutnya, kata ini diterjemahkan secara salah kaprah sebagai Laut Merah. Jika Shameer memahami keterasingan sebagai bagian paling integral dari keimanan Yahudi, seharusnya ia tidak mengambil jalan paling bodoh; menenggak obat pembasmi serangga. (Atau jangan-jangan benar yang dikatakan Abu Hasan, Shameer tidak bunuh diri.)
Sedihku… sedih yang entah harus kubahasakan dengan apa.
Sebab, menangis tak akan bisa menghidupkan Shameer kembali.
***

Telah lama aku meragui kebenaran. Sejak memulai perjalanan….
Tapi, bukankah perjalanan dan keterasingan adalah pilar keimanan yang begitu kuat? Musa membimbing bangsa Yahudi menjengkali Sinai dalam keterasingan bertahun-tahun. Sang Mesias Kristiani menempuh perjalanan luka dengan memanggul salib mendaki Golgota. Dan Muhammad (entah kenapa hatiku bergetar menyebutnya) meninggalkan Mekah menuju Yatsrib, kota yang dijanjikan—atau menjanjikan.
“Islam berpijak pada ajaran yang realistis, David,” kata Shameer, beberapa saat sebelum ia kutemukan meregang nyawa.

“Jangan bodoh!” bentakku saat itu, khawatir ia menodai keagungan Yahweh.
“Adakah yang lebih realistis dari kesetaraan dalam mengabdi?”
Kutelusuri makna kata itu. Pada kubah Al Quds yang menggaungkan dengung adzan. Mereka tidak membagi derajat peribadahan dalam kelas-kelas mana pun, karena mereka secara bersama bisa mencapai tempat-tempat tertinggi, pangkat-pangkat yang disematkan sebagai orang shalih. Karena orang-orang mulia mereka tidaklah disyaratkan dari keturunan rasul atau orang-orang tua yang shalih. Tidak pula pada tingkat pendidikan, harta benda, atau strata golongan. Pun adanya dengan warna kulit.

“Apakah kau ingin menjadi muslim?” tanyaku tak suka.
Shameer hanya tertawa. Tawa ampang.
“Bukankah Bilal juga berasal dari Ethiopia?” katanya. “Ia berasal dari negeri kita, David. Dan kau tahu, maqam apa yang telah ia tempati? Bahkan Muhammad meradang saat sahabat dekatnya menghina Bilal dengan sebutan ‘budak hitam’. Muhammad tidak pernah menghina kulit apa pun dari orang-orang yang mengikuti risalahnya. Bahkan, budak hitam sepertinya diizinkan memanjat puncak Ka’bah untuk menyeru shalat. Kakinya menginjak tempat mulia itu, lebih tinggi dari para pewaris rumah suci.”
“Apakah kau ingin menjadi muslim?” ulang tanyaku.

“Istri Bilal bahkan bukan dari golongan kulit hitam, David. Kau harus tahu itu.”
“Kau terjebak pula dalam pemahaman rasis. Kau terlalu terobsesi dan terprovokasi oleh rasa tertarikmu pada Miriam, gadis Ashkenazi itu.”

“Kaupikir begitu? Jika ini dibilang pemberontakan, David, pemberontakan atas nama kesetaraan. Kita lebih berhak berbangga sebagai aliya dengan keteguhan yang hanya dimiliki orang-orang Ethiopia pada Operasi Musa dan Sulaiman, daripada para kulit putih yang hanya mengagung-agungkan keistimewaan warna kulit dan ritus masa silam yang berkait dengan sejarah Zion, tanpa adanya bentuk ‘perjuangan habis-habisan’. Seperti suatu isyarat bahwa keimanan mereka belum teruji. Kitalah orang-orang yang telah menempuh ujian, lulus sebagai juara. Tapi, apa yang kita peroleh di ‘negeri kita’ ini? Kita menjadi pengemis di rumah kita sendiri, menjadi budak dari saudara-saudara kita sendiri.”
“Keterasingan adalah ruh dari keimanan.”

“Tidak. Yang kurasakan adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.”
“Cintamu pada Miriam?”
“Ya, dan kepada semua Yahudi. Kita selalu menganggap mereka sebagai saudara, mencintainya dengan kecintaan yang bersumber pada Musa dan Ibrahim. Tapi, sayang… mereka tak pernah mencintai kita. Karena, kita budak hitam. Walaupun menjadi kulit hitam bukan proses tawar-menawar dengan Tuhan, bukan pula sesuatu yang bisa atau tidak bisa kita usahakan, melainkan sebuah suratan dan kodrat, tapi tetap saja karena itulah kita diperlakukan berbeda.”

Sepertiku, Shameer berkulit hitam. Dalam perjalanan mencapai Erets Yisrael sepeninggal ibuku, ayahku menikah lagi dengan gadis Ethiopia, sesama aliya. Darinya, dua tahun kemudian, lahirlah Shameer, persis saat Operasi Musa berakhir dengan lebih 10% dari ‘peserta’nya meninggal dalam perjalanan.
“Mengapa saat itu pemerintah Israel tidak membantu para aliya yang terkatung-katung di perbatasan Sudan—seperti Musa di Gurun Sinai—dan menghadapi murka alam?” hujat Shameer. “Mereka seperti membiarkan para aliya berikut konsekuensi perjalanan menantang maut yang mereka pilih sendiri.”
Mengenang luka Operasi Musa seperti menguak luka dalam hatiku.

“Kaupikir, kau percaya alasan saudara-saudara kita atas pertolongan setengah hati mereka saat itu, bahwa pemerintah Israel sedang menghadapi problem dalam negeri seperti inflasi akut pasca-penyerbuan Libanon pada 1982?”
“Bukankah benar karena itu?”

Shameer tertawa. “Alangkah baik hatinya kau. David sayang, jika kau telah dewasa kala itu, kau akan menyadari bahwa kau tidak akan mendapat perlakuan semacam itu jika kau bukan dari kulit hitam.”
“Diamlah, Shameer! Terimalah keterasingan sebagai bagian dari keimanan.”

“Apakah kau mengatakan demikian pula untuk para chalayim bodedim?”
Aku tak bisa menjawab hujatan Shameer kali ini. Karena, apa yang ia tanyakan sebenarnya telah lama mengusik hatiku. Chalayim bodedim, prajurit sebatang kara, demikian sebutan bagi orang-orang Yahudi Amerika—berkulit putih—yang melakukan ‘aliya’ ke Israel. Mereka datang bukan untuk menetap. Mereka berdinas sementara, untuk kemudian pulang kembali ke negeri asal mereka. Tapi, mereka selalu menempati tempat-tempat tinggi dan bergengsi dalam struktur Israeli Defence Force (IDF), angkatan bersenjata Israel. Mereka—sebagai warga kelas satu—mendulang perhargaan, gaji dan tunjangan dua kali lipat dari tentara Israel lainnya. Sementara, orang-orang Falashas hanya dipandang sebagai anak bawang. Lebih tepat sebutan sebatangkara itu untuk orang-orang kulit hitam yang berjalan gontai sendiri, dan baru berbinar matanya jika bertemu sesama warna kulit, sebab dari merekalah benar-benar rasa ‘penerimaan’ itu dihadiahkan dengan mewah. Sementara dari sesama Yahudi, mereka hanya mendapat semburan atau pemanis bibir—jika secara kebetulan mereka ‘dianugerahi’ sikap manis.
“Chalayim bodedim itu orang asing di sini, Shameer,” jawabku berapologi, namun sebenarnya bertentangan dengan pikiranku sendiri. “Mereka memiliki motivasi yang besar, sehingga mereka meninggalkan keluarganya, menuju negeri ini tanpa adanya sanak famili.”
“Masih kurang besarkah tekad para Falashas? Dan lagi, kita sebatangkara di sini, David, sama seperti mereka! Jangan hibur aku dengan hiburan kosong semacam ini.”

“Kita memang terasing,” potongku kembali mengingatkannya pada pilar suci keimanan yang diajarkan Musa.
“Terasing yang seperti apakah? Muhammad pergi ke Yatsrib dan di sana ia tidak dipandang sebagai masyarakat kelas dua. Muslim Yatsrib memeluk mereka dalam persaudaraan dan persamaan harkat.”
“Muhammad lagi! Kau terprovokasi orang-orang muslim.”
Shameer kembali tertawa.
***
Aku mencintai kota ini….
Bukankah cinta itu yang telah membawa puluhan—bahkan ratusan—ribu Yahudi Ethiopia meninggalkan negerinya, memenuhi panggilan suci Torah agar membentuk negara Israel Raya?
Aku masih berjalan di sekitar Dinding Ratapan (orang-orang Yahudi menyentuh dinding itu dan banyak yang berusaha mencongkel kerikil kecil dari tempat yang diyakini sebagai bagian yang tersisa dari Kuil Suci, candi Sulaiman) dan sesekali harus menggeleng atas tawaran ‘shalom’ beberapa pemuda kulit hitam dengan meja setinggi pinggang yang dipenuhi buku-buku dan selebaran berisi tulisan Ibrani; rangkaian doa mistis dalam syariat Yahudi.

Apakah saat ini aku masih Yahudi?
Mendongakkan sedikit kepalaku, kubah Al Aqsha terpampang megah, menggaungkan adzan di tengah hari terik yang dipadati para peziarah; orang-orang yang datang dengan kerinduan. (Di mana Abu Hasan?)

Aku mencintai negeri ini, bukan saja karena ini negeri yang dijanjikan….
Setelah sekian peristiwa kualami, cintaku tak lapuk, tetap menyemai di hati. Kota eksotis yang menautkanku dengan ritus masa lalu, berkelindan dengan aroma sakral keimanan. Kota ini sangat pantas untuk dicintai, bukan saja karena seseorang memilih Yahudi, Kristen, atau Islam sebagai jalan pencerahan.

Telah lama aku ragu dengan keimanan (kucoba menepis ragu, berprasangka bahwa rasa ini mungkin hanya berasal teluk kekecewaan akibat perlakuan yang tidak manusiawi). Ragu yang sama saat beberapa tahun lalu, Januari 1996, aku ikut berdemo dengan sebarisan kaum Falashas—menurut berita, jumlahnya tak kurang dari 15.000 orang—melakukan protes di depan kantor perdana menteri, atas perlakuan yang sungguh merendahkan.

Mungkin benar kata Shameer, hanya orang-orang Falashas yang mencinta, namun sama sekali tidak dicintai. Dengan alasan cinta itu berikut semangat kenegaraan yang meluap-luap, secara periodik kaum Falashas menyumbangkan darah di Bank Darah Nasional Israel. Dan, puncak penghinaan itu terasa saat mereka mengetahui darah kaum Falashas itu tidak diperlakukan semestinya, tetapi dibuang diam-diam. Kaum Yahudi kulit putih tak mau menerima donor dari kaum kulit hitam. Pemerintah Israel berusaha merasionalisir tindakannya itu dengan mengatakan bahwa 1% dari komunitas Yahudi Ethiopia diketahui mengidap HIV. Sebuah pembelaan yang tidak berarti karena toh darah yang terinfeksi HIV bisa terlacak, sehingga tak perlu mereka melakukan ‘pembuangan’ secara brutal terhadap darah para Falashas.

Penghinaan yang sangat menyakitkan….
Aku mencintai kota ini, tapi tidak orang-orangnya….
“Aku telah Islam,” kata Abu Hasan saat kami pertama bertemu. Dia tinggal berdampingan dengan apartemen tempat Shameer, kuketahui saat ada telepon memintaku cepat-cepat datang ke alamat yang ia sebutkan. Saat-saat di mana kutemukan Shameer sekarat dengan obat pembasmi serangga.
Sepertiku dan Shameer, Abu Hasan berkulit hitam. Keluarganya juga aliya, datang ke Israel dalam gelombang Operasi Sulaiman. Dan, sejak menempuh kuliah di Hebrew University, ia memilih Islam sebagai agamanya.

Abu Hasan mengatakan, ia mengetahui sesuatu tentang kematian Shameer. Dan, ia hendak mengatakannya kepadaku hari ini, semoga bisa membantu. Tentu saja ini menerbitkan minatku untuk menyusuri Dinding Ratapan seraya menunggu adzan.

Sesudah ayahku, praktis hanya Shameer keluargaku yang tersisa. Seluruh famili dari pihak ayah maupun ibuku tewas di Amrakuva. Bahkan, wanita yang dinikahi ayahku yang kemudian melahirkan Shameer, juga seorang yang tidak memiliki famili, dan meninggal setelah satu tahun menjanda. Cintaku pada Shameer menyaingi cintaku pada Yerusalem. Untuk itu, aku merasa berhak mengetahui sekecil apa pun informasi tentangnya.

“Dia tidak mati bunuh diri. Ada sebuah rekayasa yang dilakukan untuk menghabisinya, dan dikesankan bunuh diri. Aku mengetahuinya belum lama. Itu karena aku juga baru mengerti Shameer ternyata telah masuk Islam. Di sini, telah terjadi beberapa makar untuk menyingkirkan para mahasiswa yang tak lagi bisa dihalangi untuk masuk Islam.”

Aku tak terkejut. Sejak pertama aku telah menduga. Namun, karena aku telah dihadapkan dengan tembok tebal hitam birokrasi—dan mungkin intelijen—aku memutuskan untuk menerima Shameer bunuh diri.
***
Sayangnya, kendati akhirnya aku bertemu Abu Hasan, kami tak sempat bercerita apa-apa. Kerusuhan terjadi lagi—bagai makanan sehari-hari—yang melibatkan tentara bersenjata Israel. Helikopter meraung-raung di udara menyerang pemukiman muslim di dekat Al Aqsha. Situasi di Palestina memanas pasca-pembunuhan Syaikh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual Hamas. Penangkapan terhadap para aktivis Hamas berlangsung gila-gilaan, dan korban berjatuhan tidak terbatas pada kalangan aktivis, tetapi juga penduduk sipil yang tak bersalah; yang tak selalu orang-orang Islam, sebagian mereka adalah warga biasa dengan jenis iman yang beragam.

Karena peluru tidak lebih dulu bertanya ‘agamamu apa’ sebelum memutuskan untuk merobek kulit dan memberaikan tulang belulang.
Aku terlambat mendengar berita rusuh itu, sehingga yang kutemui hanya sisa-sisa pertempuran berikut ceceran darah dan proyektil peluru. Korban-korban dilarikan ke Rumah Sakit Omar Mochtar, termasuk Abu Hasan. Aku segera mengejar ke sana.

Di pintunya, wajah-wajah resah menyambutku dengan kepala penuh tanya.
“Assalamu’alaikum!” seruku. Aku memutuskan memakai salam ini demi bisa bertemu Abu Hasan. Aku harus mendengar rahasia itu darinya. Karena itu, aku harus mengaku sebagai orang Islam, agar mudah memasuki rumah sakit ini. Rumah sakit ini milik yayasan Islam, dan aku yakin pekerja di dalamnya menyimpan kewaspadaan yang tinggi terhadap orang-orang asing. Sebab, yang kutahu adalah mereka begitu mengenal orang-orang yang seiman dengan mereka. Situasi memanas, dan semua orang berada dalam puncak sensitifitas.

“Abu Hasan,” sebutku pada seorang perawat, yang segera mengantarku ke bangsal tempat lelaki itu terbaring. ICU. Ia belum bisa diganggu. Sedang dilakukan tranfusi. Seorang pedonor darah terbaring di sebelahnya.

Darahku tersirap. Pedonor itu jelas berkulit putih. Dan bukan ia saja yang kulihat. Ada lagi beberapa muslim kulit putih sedang mendonorkan darah, tak peduli yang memerlukannya orang kulit putih atau hitam.

“Assalamu’alaikum, Saudaraku…!” sapa seorang laki-laki, kulit putih, dengan dahi menghitam bekas sujud. Pakaian yang ia kenakan, sorot wajah serta tanda hitam di dahi itu memudahkanku untuk menyimpulkan bahwa ia seorang Islam.

Aku mengangguk, gagap, dan mencoba menjawab salam itu dengan terbata-bata. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Allahu akbar! Semoga masih sempat. Saudaraku memerlukan darah. Persediaan darah di sini telah habis. Saya membutuhkan darah A, dan saya telah berputar-putar selama satu jam di sini mencari-cari orang yang bersedia mendonorkan darahnya. Perlu tiga orang, dan saya baru memperoleh satu; dua dengan saya. Apakah golongan darah Anda?”

“A.”
“Subhanallah! Bersediakah Anda mendonorkan darah untuk saudara saya?”
Sejenak terbayang di benakku penghinaan yang menyakitkan itu; darah yang dibuang diam-diam.
“Saya? Kulit hitam?”
Denyut itu menguasai jantungku. Berdebar-debar. Tapi, segera kukatupkan mulutku mencegah tanya berlanjut. Sejenak mata itu mencermati, seperti berusaha meyakinkan kalimatku tadi.
“Oh… eh… baiklah! Tentu saja saya bersedia. Kapan donor dimulai?”
Wajah itu penuh syukur. “Terima kasih. Perlu menjalani pemeriksaan dulu di laborat. Kita ke sana segera.”

Entahlah… apa yang kupikirkan sekarang. Apakah aku mulai menimbang-nimbang tentang keimanan? Aku tak tahu. Yang kurasakan hanyalah rasa penerimaan yang begitu mewah. Mungkin benar kata Shameer, tak ada yang lebih realistis dalam kehidupan ini selain kesetaraan. Secara naluriah, manusia membutuhkan persamaan hak, sebuah tuntutan sederhana yang telah begitu purba. Cermin yang kulihat tadi dengan nyata memproyeksikan kebersamaan dan kesetaraan. Tak ada cinta yang perlu merana. Bahkan, seorang kulit hitam leluasa untuk mencintai saudaranya yang berkulit putih. Alangkah….
Telah sampaikah aku di tanah yang dijanjikan—atau menjanjikan—itu?
Aku mencintaimu, Yerusalem… dengan seluruh napas dan darahku.
26 Oktober 2004, 01:00 dinihari

1 comment:

Atenks said...

tulisannya bagus skali mas!! boleh ya aku ambil untuk ditampilin di blogku??! thanks

Custom Search